Dec 2, 2017

Salahku.

Salahku, yang terlalu berharap banyak pada hal ini.
Salahku, yang berekspetasi terlalu besar pada hal ini.
Dan salahku, yang tak terlalu pandai bersyukur dan tak pandai mengungkapkan apa yang ada.

Padahal, semua baru akan dimulai.
Perjuangan yang sesungguhnya baru saja akan ditempuh.
Tetapi, aku lebih memilih mundur.
Bukan karena aku lemah, apalagi menghindar.
Aku hanya tidak menemukan apa yang sedang aku cari disini.

Terkesan remeh.
Terkesan tidak penting.
Tapi, satu hal yang harus kau tau.
Kau tak bisa menyamakan presepsimu dengan presepsiku.
Sekali kali pun tidak.

Hatiku selalu saja ingin bertahan.
Tapi, aku tidak bisa,
Ah, serumit inikah?

Bukan hal yang mudah memilih untuk pergi ketika sedang cinta cintanya.
Juga bukan hal yang menyenangkan ketika memaksa diri untuk melupakan apa apa yang telah membekas di hati.

Sabtu, 2 Desember 2017.



Share:

Oct 30, 2017

menilik peran mahasiswa dalam pemberdayaan masyarakat.

“Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali" - Tan Malaka ”

Pemuda merupakan aset utama penggerak peradaban dari suatu bangsa. Pun terwujudnya kemerdekaan bangsa Indonesia ini tak lepas dari peran para pemuda yang dengan semangat juangnya melawan segala tindak kolonialisme dari para penjajah.

Berdasarkan UU No 40 Tahun 2009, pemuda adalah warga negara Indonesia yang memasuki periode pertumbuhan dan perkembangan berusia 16 (enam belas) sampai 30 (tiga puluh) tahun. Dimana, usia ini juga merupakan usia rata rata dari seluruh pemuda di Indonesia yang berkesempatan menyandang status sebagai mahasiswa di berbagai perguruan tinggi.

mahasiswa merupakan insan berintelektual dan dikenal akan idealismenya yang tak mudah goyah. Fungsi dari mahasiswa juga tak terlepas dari visi Perguruan Tinggi yang dikenal dengan Tridharma Perguruan tinggi yaitu Pembelajaran, Penelitian, dan Pengabdian masyarakat.

Dewasa ini, ada segolongan manusia yang melabeli dirinya sebagai ''mahasiswa'' (tidak semuanya tetapi sebagian) yang tidak banyak menaruh minatnya di bidang pengabdian masyarakat. Hanya memedulikan kewajibannya berupa kegiatan akademik saja. Hanya memedulikan bagaimana cara meningkatkan indeks prestasi atau yang sering disebut IP. Hanya memedulikan bagaimana cara mendapatkan nilai A pada setiap mata kuliah yang ada. Hanya memedulikan bagaimana menyelenggarakan suatu kegiatan atau acara yang sama sekali tidak ada output konkritnya untuk kepentingan masyarakat banyak. (Sekali lagi ditekankan, tidak semua memiliki prinsip seperti itu,tetapi sebagian yang lain)
Salahkah jika ada mahasiswa yang memiliki prinsip seperti itu? Tak dapat kita katakan salah sepenuhnya, tetapi juga tak dapat selalu ditolerir atas tindakannya. 

mahasiswa yang dikenal sebagai agent of change harus mampu memahami dan memaknai status dan peranannya dalam tatanan masyarakat. Ia harus mengerti bahwa ketika status "mahasiswa" itu disematkan padanya, maka ia tidak hanya belajar untuk dirinya sendiri, tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga memikirkan bagaimana caranya agar ia dapat memberikan kontribusi terbaiknya demi mewujudkan kesejahteraan bangsa ini. memikirkan bagaimana caranya agar dapat menjadi insan yang dapat menebarkan manfaat bagi sekitarnya.

Cara terbaik memberikan kontribusi tersebut adalah dengan cara terjun langsung ke dalam kehidupan masyarakat. Bercengkerama pada masyarakat pinggiran, membaur pada anak anak jalanan, berbagi ilmu dan pengalaman pada anak anak yang putus sekolah, dan masih banyak lagi. mahasiswa harus dapat menyatukan jiwa raganya pada masyarakat dan realitas yang ada. 

Banyak cara mahasiswa untuk mengabdikan diri pada masyarakat seperti pembuatan alat alat terbarukan untuk keberlangsungan hidup masyarakat atau dapat ikut serta dalam kegiatan pkm sebagai ajang penelitian. Namun seringkali kegiatan seperti ini memberikan efek yang tidak terlalu signifikan untuk masyarakat. Itulah mengapa, terjun langsung ke masyarakat merupakan cara terbaik untuk mengabdikan diri pada bangsa ini.

-------------------------------------------------------------------

Jadikan dirimu sebagai mahasiswa yang tak hanya mampu mengkritisi tetapi juga dapat berkontribusi, serta dapat menjadi sumber solusi dari setiap permasalahan di negeri ini.
Share:

Oct 9, 2017

Andai Aku Jadi menteri Pendidikan (Essay IYDCamp 2017)


"Gantungkan cita-cita mu setinggi langit! Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh,
engkau akan jatuh di antara bintang-bintang."
Soekarno 


Selain kesehatan, pendidikan merupakan elemen penting bagi kemajuan peradaban bangsa. Pendidikan merupakan salah satu bentuk investasi untuk masa depan demi terciptanya Indonesia yang berintegritas, berwawasan luas dan memiliki kemampuan intelektual yang tinggi. Etimologi kata pendidikan itu sendiri berasal dari bahasa latin yaitu ducare yang memiliki makna menuntun, mengarahkan atau memimpin, dan awalan e yang berarti keluar. Jadi, pendidikan memiliki arti kegiatan menuntun ke luar. Setiap pengalaman yang memiliki formatif pada cara orang berpikir, merasa atau tindakan dapat dianggap sebagai bentuk pendidikan. Betapa pentingnya unsur pendidikan dalam pengembangan peradaban bangsa hingga banyak sekali undang undang yang mengatur tentang pendidikan, baik dari perintah wajib belajar hingga standar operasional pendidikan itu sendiri. Bahkan, satu dari tujuh belas tujuan dari Suistainable Development Goals atau yang disingkat SDGs yang dicanangkan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) adalah pendidikan yang berkualitas. Ini menjadi bukti bahwa pendidikan adalah elemen penting demi terciptanya kemaslahatan hidup bersama bagi umat manusia. Namun, bukan berarti karena pendidikan telah memiliki undang undang hukum yang jelas serta termasuk ke dalam tujuan Suistainable Development Goals (SDGs) tujuan pendidikan telah tersebar merata ke seluruh nusantara. Justru realita yang terjadi di dalam lapangan adalah masih banyak anak bangsa yang belum atau bahkan tidak sama sekali mendapatkan akses pendidikan yang layak. Masih banyak anak bangsa yang buta aksara dan tidak dapat berhitung. Masih banyak anak bangsa yang tidak mengetahui bagaimana tata cara atau etika ketika berbicara pada orang lain, terutama kepada orang yang lebih tua darinya. Masih banyak anak bangsa yang ingin membaca buku tapi terhalang sarana prasarana Bahkan, masih banyak orang tua dari anak bangsa tersebut yang tidak memahami akan pentingnya akses pendidikan bagi anak anak mereka. 


Hal inilah yang mendasari saya sebagai generasi penerus bangsa, sebagai pemuda yang memahami pentingnya pendidikan bagi anak bangsa, sebagai seseorang yang peduli dan ingin mendedikasikan hidup di dunia pendidikan untuk mewujudkan mimpi serta cita cita sebagai Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Indonesia. Membangun dan memperkokoh budaya literasi adalah misi saya yang pertama jika saya menjadi Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Indonesia. Saya ingin mendirikan rumah baca dengan konsep friendly di daerah daerah yang belum memiliki akses perpustakaan yang baik dan layak. Salah satunya, saya ingin mendirikan rumah baca di daerah Gandus Palembang, tempat saya mengabdikan diri menjadi relawan pendidikan. Tidak ada perpustakaan disana. Bahkan sekolah pun hanya ada satu dan lokasinya lumayan jauh. Minat baca anak anak disana lumayan tinggi. Saya tidak ingin jika gairah serta antusias mereka yang mau meningkatkan ilmu serta wawasan terhambat hanya karena keterbatasan akses perpustakaan. Rumah baca dengan konsep friendly ini tidak hanya berisikan buku buku saja, tetapi saya akan membuat program seperti mari mendongeng, bercerita, debat dan pelatihan kepenulisan. Selain mendirikan rumah baca, saya juga akan menjalankan project yang saat ini sedang saya rancang yaitu “Pemuda Beropini”. Maksud dari project ini adalah agar para pemuda di seluruh nusantara menjadi lebih berani menyuarakan opini mereka terhadap perkembangan peradaban bangsa Indonesia. Tentunya, opini yang diberikan harus disertai fakta atau sumber yang terpercaya dan mereka bisa mengetahui fakta fakta tersebut melalui kegiatan literasi. Misi saya yang kedua adalah mengubah konsep pendidikan dasar di Indonesia. Saya sangat menyadari bahwa semua anak memiliki minat, bakat, dan keunikannya masing masing. Tidak ada anak yang terlahir bodoh. Yang ada hanyalah anak yang tumbuh dan berkembang dengan kekurangan gairahnya. Mereka menjadi tidak bergairah karena tidak memiliki minat dan bakat terhadap apa yang mereka pelajari. Saya ingin membuat suatu konsep pendidikan dimana anak anak dapat memilih bidang bidang pelajaran apa saja yang menjadi minat mereka sehingga dapat menimbulkan gairah di dalam diri masing masing pribadi. Entah itu astronomi, fisika, kimia, biologi, sejarah, bahasa asing, ekonomi, akuntansi, seni, dan lain sebagainya. Dengan metode seperti ini, saya yakin anak bangsa dapat lebih banyak menyumbangkan karya karya terbaiknya untuk Indonesia. 

Terkhusus konsep untuk kategori pendidikan dasar (rentang usia dari lima tahun sampai dengan 10 tahun) saya ingin membuat dan merealisasikan konsep pendidikan berupa Character Building. Konsep ini lebih ke penanaman tentang pentingnya pendidikan karakter sejak dini. Mereka akan belajar mengenai tata cara berkomunikasi, etika dan sopan santun,budaya mengantri, pelestarian lingkungan, berbakti pada orang tua, pendidikan kerohanian, dan lain sebagainya. Saya menyadari bahwa kesuksesan seseorang bukan hanya didasari oleh kemampuan IQ yang tinggi, tetapi juga harus disertai kemampuan EQ dan SQ yang memadai. Kedua misi tadi merupakan misi utama yang akan saya laksanakan ketika saya diamanahkan untuk menjadi Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Indonesia di kemudian hari. Bagaimanapun, menciptakan pendidikan yang berkualitas merupakan tugas dari semua orang yang berpendidikan. Umat manusia harus saling menyadari dan memahami bahwa pendidikan adalah satu dari sekian banyak elemen penting demi terciptanya peradaban bangsa. Salam pendidikan!

“Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan
pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki
cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali"
- Tan Malaka -

Share: