Selasa, 29 Desember 2015

Tere Liye - Sunset Bersama Rosie (Quotes)




"Ada banyak cara menikmati sepotong kehidupan saat kalian sedang tertikam belati sedih. salah satunya dengan menerjemahkan banyak hal yang menghiasi dunia dengan cara tak lazim. saat melihat gumpalan awan di angkasa. saat menyimak wajah-wajah lelah pulang kerja. saat menyimak tampias air yang membuat bekas di langit-langit kamar. dengan pemahaman secara berbeda maka kalian akan merasakan sesuatu yang berbeda pula. memberikan kebahagiaan utuh -yang jarang disadari- atas makna detik demi detik kehidupan.”


“Taukah kau, untuk membuat seseorang menyadari apa yang dirasakannya, justru cara terbaik melalui hal-hal menyakitkan. Misalnya kau pergi. saat kau pergi, seseorang baru akan merasa kehilangan dan dia mulai bisa menjelaskan apa yang sesungguhnya dia rasakan.”


“Mengerti bahwa memaafkan itu proses yang menyakitkan. Mengerti, walau menyakitkan itu harus dilalui agar langkah kita menjadi jauh lebih ringan. Ketahuilah, memaafkan orang lain sebenarnya jauh lebih mudah dibandingkan memaafkan diri sendiri.”


“Tak Peduli seberapa membahagiakan atau menyedihkan, hidup harus terus berlanjut. Waktulah yang selalu menepati janji dan berbaik hati mengobati segalanya.”


“Aku harus menyibukkan diri. Membunuh dengan tega setiap kali kerinduan itu muncul. Ya Tuhan, berat sekali melakukannya…. Sungguh berat, karena itu berarti aku harus menikam hatiku setiap detik.”
 

“Bagi seorang gadis, menyimpan perasaan cinta sebesar itu justru menjadi energi yang hebat buat siapa saja yang beruntung menjadi pasangannya, meskipun tu bukan dengan lelaki yang dicintainya. Bagi seorang pemuda, menyimpan perasaan sebesar itu justru mengungkung hidupnya, selamanya.”


"Selamat pagi. Bagiku waktu selalu pagi. Diantara potongan waktu dua puluh empat jam sehari, bagiku pagi adalah waktu paling indah. Ketika janji-janji baru muncul seiring embun menggelayut di ujung dedaunan. Ketika harapan-harapan baru merekah bersama kabut yang mengembang di persawahan hingga nun jauh di kaki pegunungan. Pagi, berarti satu hari yang melelahkan telah terlampaui lagi. Pagi, berarti satu malam dengan mimpi-mimpi menyesakkan terlewati lagi."


“Aku tidak tahu apa perasaan itu, Ros. Yang aku tahu aku selalu merasa senang bersamamu. Merasa terteram dari semua galau. Merasa damai dari semua senyap. Aku merasa kau membuatku setiap hari lebih baik. Menumbuhkan semangat, memberikan energi.”


“Dua puluh tahun kelak, aku pasti menyesali telah melakukan ini, Tegar. tetapi, dua puluh tahun kelak juga, aku pasti lebih menyesalinya jika tidak melakukannya.” Sekar menahan tangis, tubuhnya bergetar, satu tangannya yang lain meraih lenganku, menatapku, “Menikahlah dengan Rosie, Tegar. Menikahlah. Pagi ini aku paham, aku mengerti, kalian ditakdirkan bersama sejak kecil. Aku sungguh akan belajar bahagia menerimanya, dan itu akan lebih mudah dengan pemahaman yang baru. Aku akan baik-baik saja. Menikahlah!”


 
“Apa arti kata cinta bagi Ibu?” Anggrek bertanya sekali lagi. “Persahabatan.” Rosie menjawab lirih."





"Kau terlampau mencintai Rosie, Tegar. Maka hatimu terkadang sering menipu. Kau dulu sering bertanya apakah kau punya kesempatan? Menurut orang tua ini, kalian berdualah yang justru tidak pernah berani membuat kesempatan itu. Betapa tidak beruntungnya. Kalian menyerahkan sepenuhnya kesempatan itu kepada suratan nasib. Tapi itu tidak buruk. Bukan sebuah kesalahan. Maka biarkanlah seperti itu selamanya. Juga untuk urusan malam ini, biarkanlah seperti itu …., Andaikata takdir itu memang baik untuk kalian, maka akan ada sesuatu yang bisa membelokkan semua kenyataan. Tapi sepanjang sesuatu itu belum terjadi, maka seperti yang aku bilang, tidak pernah ada mawar yang tumbuh di tegarnya karang, Anakku."



"Sudah cukup, Mas Tegar. Terlalu lama maka semakin terasa hambar kenangannya, hilang rasa spesialnya. Bagiku jauh lebih menyenangkan menyimpan sepotong kejadian yang hanya selintas terjadinya. Itu akan membuat penasaran saat mengenangnya, bukan? Dibandingkan kejadian yang kita rekam dengan kamera atau foto, yang kita lihat berkali-kali. Tidak ada celah untuk membayangkan lagi kenangan itu."



"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Kesempatan. Aku benar-benar tidak mengerti kata itu. Apa kami harus membuat kesempatan itu dengan tangan-tangan ini. Atau kami harus menunggu Kau memberikan kesempatan itu dari langit? Aku dulu tidak pernah punya kesempatan. Atau jangan-jangan maksud kalimat itu, aku tidak pernah punya keberanian untuk membuat kesempatan itu. Aku tidak pernah sanggup mengatakan perasaan itu ke Rosie. Seharusnya aku tetap bilang. Merebut Rosie dari Nathan. Apa pun caranya."



"Bagi kami jauh lebih baik menikah dengan orang yang mencintai, bukan dengan orang yang dicintai."



“Tahukah kalian, dalam banyak hal justru orang dewasalah yang banyak belajar kepada anak kecil. Mencari kekuatan, inspirasi, kebahagiaan melihat kalian. Termasuk Paman, Paman sungguh tak tahu apa yang akan dilakukan jika kalian tidak ada. Paman sungguh sedih dengan ini semua. Ingin rasanya Paman menangis, dan lihatlah Paman sudah menangis.”



"Bukankah Uncle selalu bilang kita tidak boleh melupakan masa lalu. Berdamai tapi tidak melupakan."





"Kalian lihat kunang-kunang itu. Terbang dengan cahaya di ekornya. Kecil tapi indah. Begitulah kehidupan. Kecil tapi indah. Seekor kunang-kunang hanya bisa menyalakan ekornya semalaman, esok pagi, saat matahari datang menerpa hutan kecil ini, lampu kunang-kunang itu akan padam selamanya. Mati. Pergi. Tetapi mereka tidak pernah mengeluh atas takdir yang sesingkat itu. Malam ini, meski mereka tahu besok akan pergi, mereka tetap riang terbang menghiasi hutan. Menyalakan lampu. Memberi terang sekitarnya."

"Apakah dunia memang begitu? Kita tidak akan pernah mendapatkan sesuatu jika kita terlalu menginginkannya. Kita tidak akan pernah mengerti hakikat memiliki, jika kita terlalu ingin memilikinya."






 

0 komentar: